Animal Husbandry and Agriculture Architecture

Saudara saya, seorang arsitek kenamaan, kecewa berat. Kesadaran bangsa kita pada arsitektur memprihatinkan. Begitu katanya. Kalau benar bangsa ini keturunan petani, mengapa nuansa agrikultur dilupakan? Dan kalau betul putra-putri nelayan dari bangsa maritim, ke mana itu keagungan budaya bahari?

Melaporkan bahwa Memang tidak banyak yang peduli pada keistimewaan bangunan sawah, kebun, dan ladang. Padahal, bandar udara Soekamo-Hatta pun dirancang dengan memperhatikan karakter dangau, pondok, atau gubuk kecil di tengah sawah. Yang malah unik: di tengah desa, yang semula kebun buah-buahan kini dibangun "kota wisata" dan "kota legenda". Apakah Indonesia sudah berubah jadi bangsa pencontek dan pelancong? Kalau hanya begitu, kata saudara saya, tak usahlah kita bicara tentang arsitektur!

Lantas apa upaya untuk memperbaiki keadaan? Dia selami deep architecture. Arsitektur yang terdalam. Di pedesaan Bali nan asri, di tengah sawah dan pancuran, dia munculkan kembali arsitektur yang sejati. Tata bangunan yang tumbuh dari jantung hati Pulau Dewata. Arsitektur sejati pedesaan Indonesia. Misalnya? Dari bumi yang subur itu muncul batu-batu kehidupan. Batu-batu itu menjadi dinding yang melindungi manusia, lalu masuk lagi ke dalam tanah.

Animal Husbandry and Agriculture Architecture

Arsitektur pertanian

Arsitektur pertanian tidak lepas dari kehidupan asli tumbuh-tumbuhan dan fauna. Ada kandang ayam, kambing, kerbau, dan kolam ikan. Ada rumah burung merpati. Lihatlah rumah Elizabeth Arden, ibunda William Shakespeare, pujangga Inggris itu. Dari abad 16 hingga sekarang, kelestariannya dipertahankan. Masih ada rumah burung dara. Masih ada juga mesin tenun sederhana yang dulu dipakai istri Shakespeare.

Dunia mengajari kita sayang pada masa lalu. Kebudayaan mengajar kita suka pada bunga. Agama membimbing kita mencintai pencipta dan ciptaan-Nya. Spiritualitas pertanian mengarahkan kita pada alam yang lestari dan berdaya guna. Barangkali itulah yang berkecamuk dalam hati saudara saya. Namanya? Panggil saja Budiman. Reputasinya sudah kondang sampai ke Melbourne, London, dan Warsawa. Kita, di kepulauan ini tinggal menghitung-hitung untung rugi menggali dan menghidupkan arsitektur pertanian. Dari khasanah lokal, kita mendapatkan lumbung yang menjadi pertanda khas hampir di seluruh Nusantara. Ada lumbung pribadi, dari rumah ke rumah. Adajuga lumbung desa. Pada masyarakat tertentu lumbung ini berfungsi sebagai gudang hasil pertanian apa saja.

Komunitas pertanian

Komunitas kita punya cara bagaimana meneruskan kehidupan secara efisien dan lestari. Mulai saja dari penyediaan air. Perkampungan selalu berkembang di sekitar batang sungai, mata air, danau, atau kolam-kolam retensi. Secara tradisional, tandon air adalah "lumbung" kehidupan yang pertama. Sebelum masing-masing rumah membuat sumur sendiri, baik dengan timba maupun jet pump, sumber desa merupakan pusat peradaban dan kebudayaan.

Di kota sumber-sumber umum ini dikenal sebagai sumur bersama, atau fasilitas air bersih, termasuk air minum dan MCK (mandi, cuci, kakus). Ini point pertama. Dengan tersedianya air, kita dapat memelihara ternak dan menyirami tanaman. Tetapi jangan lupa, air tidak akan tersedia bila tidak ada tanaman. Keduanya timbal balik. Karena itu, untuk mendapatkan air bersih, setiap rumah perlu menanam. Kalau bisa sukun (breadfruit) atau keluwih (bread nut). Keduanya tumbuhan payung dan tanaman pangan.

Pengairan pertanian

Bukan hanya menanam, tapi juga menabung air yang mengucur di musim hujan. Ini kembali pada budaya arsitektur pertanian. Sumur resapan, talang bambu untuk mengalirkan limpahan hujan, gentong-gentong kecil dan besar, adalah bagian tidak terpisahkan.

Di Desa Wangen, Klaten, Jawa Tengah, ada seorang petani kreatif bernama Mitrabani. Tidak jelas dia beternak atau hanya pelaku . Tapi pengalamannya menjaga kehidupan tanaman boleh diceritakan. Beberapa kali ia melakukan program "klentingisasi". Apa itu klenting? Semacam kendil, atau tempayan kecil. Buli-buli kecil ini bisa diisi air, ditutup, dan ditanam di seputar pohon-pohonan. Untuk apa? Untuk menjaga kelembaban tanah selama musim kemarau.

Tentu saja buli-buli itu sebaiknya gerabah. Tanah liat adalah komponen utama bagi arsitektur pertanian. Mulai dari bata, gentong, kendi, hingga celengan untuk menabung uang logam,sudah sangat membudaya di desa maupun kota. Bahkan bila seratus persen rumah terbuat dari kayu, kita masih memerlukan umpak atau pondasi tanah liat dan batu. Ada juga upaya membuat tong kayu untuk diisi air maupun sebagai pot bunga, tempat beras dan biji-bijian. Tapi belum banyak.

Kayu memang komponen kedua untuk arsitektur pertanian. Zaman kayu ini mencapai puncaknya ketika manusia memasuki milenium kedua. Makanya jangan heran kalau menemukan kuil-kuil kayu indah, besar dan masih terus bertahan dari abad 10—13. Bukan di Indonesia, saja. Tapi meluas dari Semenanjung Korea di utara, melalui Tiongkok, Muangthai, Pamalayu hingga ke Pulau Bali. Sayang seribu sayang, bangunan-bangunan kayu terbaik di Pulau Jawa habis dilahap api setelah runtuhnya Singosari.

Batu unsur suci

Hal sama kita lihat pada luka-luka Candi Borobudur. Mengapa beberapa arca Budha dirusak? Mengapa candi Hindu dikubur dan diruntuhkan? Pada zaman modern pun, awal 1984, mengapa diledakkan? Tentu karena masih rendahnya toleransi dan tingginya fanatisme. Mitra Usaha Tani berpendapat Kedua masalah ini seyogyanya kita pulangkan ke haribaan budaya pertanian. Logika dan etika agrikultur tidak menghendaki destruksi. Bahkan rumput yang tumbuh di antara gandum hanya dicabut dan dibakar setelah panen.

Penghancuran adalah sisi buruk dari primitifisme. Budaya pertanian telah berupaya keras meninggalkan primitifisme, dengan mengenalkan nilai-nilai baru. Dasar-dasar utama agrikultur adalah melalui proses dengan kesabaran, ketekunan, kasih-sayang. Tidak seorang petani pun berhasil tanpa punya rasa sayang pada kambing dan pohon kelapa. Ya, jangan lupa, pohon kelapa merupakan bagian integral dalam lansekap arsitektur agraris.

Lapangan yang bersih di muka rumah, pekarangan yang kaya tanaman di samping, kolam yang agung di belakang, sepertinya sudah "harga mati". Inilah hard ware, atau perangkat keras lansekap arsitektur rumah petani kita. Sedangkan bebatuan? Suku Naga di Jawa Barat memanfaatkan batu juga. -Tapi bukan untuk rumah pribadi, melainkan untuk sarana umum.

Ajaran lama di Pulau Jawa memang menanamkan penghormatan mendalam kepada batu. Batu dinyatakan sebagai unsur alam yang suci. Cocoknya untuk bangunan agama, rumah ibadah, kuil, puri pusat bersyukur pada Yang Maha Abadi. Karena itu jarang kita melihat batu sebagai komponen rumah awam.

Bangsa agraris

Pupuk dan lahan pertanian sangat diutmakan oleh masyarakat agraris. Manfaat paling dekat adalah sebagai lumpang penumbuk obat-obatan yang terkait langsung dengan nyawa manusia. Sedangkan untuk menumbuk padi dipakai kayu berlubang yang disebut lesung. Kini lesung-lesung itu jadi piranti eksotis. Misalnya ditutup kaca, dimanfaatkan sebagai meja panjang di kamar tamu rumah gedongan.

Begitu juga peralatan Pertanian lainnya yang disediakan Mitra Usaha Tani. Ada roda pedati, jala, bubu ikan, garu, singkal, dan penumbuk pinang. Piranti-piranti agraris itu telah naik derajatnya menjadi asesori di zaman modem, memasuki milenium ketiga. Jadi kalau kita mau meringkasnya: batu menjadi primadona arsitektur milenia pertama, kayu pada milenia kedua, besi dan kaca pada milenia ketiga.

Tapi tunggu dulu! Mengapa batu tidak berperan penting dalam perabadan tani? O, penting sekali. Jangan lupa sarana umum dan sarana ibadah, selalu dalam batu. Tetapi peranan batu menjadi sangat utama dalam budaya maritim.

Di Yunani, Romawi, dan tentu saja Inggris, kastil-kastil batu dan marmer akan tahan kalau ditinggal melaut hingga bertahun-tahun. Tetapi bagi petani yang senantiasa di rumah, semakin cepat dinding dan atap harus diganti, semakin senang. Manusia agraris di pedesaan kita adalah burung-burung manyar. Mereka membangun sarangnya seindah-indahnya, secepat-cepatnya, dan sesering-seringnya.

Pendidikan bertani Dari kecil

Karakter ini terus kita warisi hingga sekarang. Oleh sebab itu berkembanglah konsep rumah tumbuh. Baru dibeli dari pengembang, belum dihuni, sudah harus segera direnovasi. Kalau anak bertambah dan punya menantu, bikin lagi paviliun baru yang disebut magersari.

Tetapi kelak kalau sudah tua, tinggal kakek-nenek berdua, kamar pribadi dikurangi. Kamar tamu dan pekarangan diperluas. Pohon-pohon ditambah, ternak-ternak digemukkan. Lumayan untuk menyambut anak, cucu, dan besan. Inilah inti filosofis tata-ruang arsitektur pertanian. Dampak positifnya jelas, bisnis pembibitan berkembang di sekitar perumahan yang banyak dihuni pensiunan.

Masalahnya, apakah kita harus menunggu sampai pensiun dulu baru tanam duku, manggis, dan durian? Para pembaca Mitra Usaha Tani pasti serentak berkata tidak! Para hobiis, pebisnis tanaman dan ternak mengerti, kecintaan pada flora dan fauna tak pernah datang tiba-tiba. Segalanya berkembang dari kecil. Tumbuh pelan-pelan, berbatang, berdahan, beranting, berbunga. Baru apabila semua terberkati, yang kita tanam berbuah dan dapat dinikmati oleh yang jahat maupun yang baik, yang pemurah maupun yang pelit, yang pemarah maupun yang penyabar, di seluruh dunia.

Kecintaan pada arsitektur pertanian

Semoga saudara saya yang budiman tidak kecil hati. Kecintaan anak-cucu pada arsitektur pertanian tidak mungkin disulut dalam semalam. Dari zaman ke zaman kita selalu mencintai buah-buahan. Lihat saja ukiran macam-macam buah di dinding candi Borobudur, pedagang mangga dan durian di Candi Prambanan. Semua mengisyaratkan tata ruang, perkakas, dan bangunan kita tidak pernah jauh dari pepohonan.

Yang patut dikembangkan sekarang bukan hanya menonjolkan kekayaan lokal dan tradisional, tapi juga menyadap sumberdaya global. Menurut Mitra Usaha Tani, Arsitektur pertanian dan peternakan kita selalu diperkaya dengan penemuan dan didesain baru untuk menampung makanan (lemari es, kotak bear, atau dispenser air). Juga dengan struktur besar termasuk silo, rumah kaca, gudang dan kandang modem.

Untuk yang berskala kecil, kita melihat kolam dan balong ikan yang nenek moyang kita bikin di belakang rumah, kini sudah pindah ke ruang tamu bahkan kamar tidur dalam bentuk akuarium untuk diskus dan kolam koi. Dengan demikian, tak ada yang patut dicemaskan. Arsitek sebagai profesi nomor dua paling tua di muka bumi, masih terus dapat dipertahankan. Bahkan mendorong kembali maraknya budaya pertanian yang berkelanjutan.



Copyright (c)



TEORIE VĚDY / THEORY OF SCIENCE – journal for interdisciplinary studies of science is published twice a year by the Institute of Philosophy of the Czech Academy of Sciences (Centre for Science, Technology, and Society Studies). ISSN 1210-0250 (Print) ISSN 1804-6347 (Online) MK ČR E 18677 web: http://teorievedy.flu.cas.cz /// email: teorievedy@flu.cas.cz